Tampilkan postingan dengan label keluarga sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga sakinah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2023

Mencintai Tanpa Henti: Nasihat Indah untuk Pernikahan

Identitas Buku

Judul Buku: Mencintai Tanpa Henti

Penulis: Cahyadi Takariawan

Jenis Buku: buku digital

Tebal buku: 37 halaman

Penerbit: Intera dan Smart Media Prima

Tahun Terbit: 2020





Entah ada angin apa tiba-tiba ingin membaca buku yang mengingatkan romantisme awal pernikahan dulu. Sebenarnya banyak buku-buku pernikahan di rumah yang belum selesai terbaca, tapi entahlah tiba-tiba ingin membaca yang singkat tapi mengena, hingga sampailah bertemu buku ini di iPusnas. 


Buku ini bisa dibilang sangat tipis, kurang dari 50 halaman. Begitu pula per halaman tulisan dibuat cukup besar jika dibandingkan buku pada umumnya. Jadilah sekitar tiga harian saya selesai membaca buku ini. Cukup lama sih, tapi bagi saya pribadi ya meski begitu butuh usaha juga agar bisa baca setiap harinya.


Buku yang hanya diterbitkan versi digitalnya saja ini memiliki lima bab: Mencintai Tanpa Henti, Persahabatan Abadi Suami Istri, Ekspresikan Cinta pada Istri, Dari Romantic Love menuju Real Love, dan Menjauh dari Istri, Menghilangkan Rezeki. Kelima bab yang saling berkesinambungan ini dinarasikan begitu ringan dan tidak bertele-tele.


Bab pertama berbicara tentang konsep dalam mencintai agar selalu ikhlas, melakukan segala hal untuk pasangan dengan tulus tanpa berharap kembali. Jangan pernah mengharapkan imbalan karena akan berujung kecewa, tapi ketika kita melakukan dengan tulus, pasangan akan bersikap seiring.


Bab dua membahas tentang persahabatan, tidak ada persahabatan sebaik persahabatan suami istri. Jadikan pasangan menjadi sahabat dalam segala hal.


Berikutnya tentang ekspresi cinta suami kepada istri. Banyak istri sering mempertanyakan apakah suaminya masih mencintainya hanya karena suami tidak pernah bilang cinta. Padahal dengan suami tetap mencari nafkah untuk istri adalah salah satu bukti cinta suami. Menurut saya ini mungkin masuk ke bahasa cinta yang berbeda-beda di tiap orang. 


Adalah penting membicarakan hal yang tidak penting antara suami istri. Obrolan suami istri harusnya memang tidak melulu soal rumah tangga dan anak, suami istri perlu obrolan-obrolan tidak penting layaknya sepasang sahabat tempat berbagi segala kisah.


Seiring berjalannya waktu, di buku ini dijelaskan tahapan cinta suami istri, dari romantic love menuju real love. Cinta yang menggebu-gebu pasangan baru dengan lebih banyaknya sentuhan fisik menjadi cinta yang lebih mendalam atau diistilahkan real love. Sebelum mencapai real love ada fase-fase di mana sesama pasangan saling mengetahui buruknya pasangannya, di sinilah biasanya ujian pernikahan.


Bab terakhir adalah sebuah cerita dari seseorang kepada penulis. Sebagai konselor pernikahan, tentu beliau banyak menerima konsultasi pernikahan. Ada seorang suami yang bercerita kepada beliau tentang kehidupan pernikahannya. Ketika si suami menjauh dari istri, ternyata rezeki ikut menjauh. Benarlah quote di beberapa tempat yang seliweran, ketika suami membahagiakan Istri, rezeki akan menjadi lebih lancar. Wallahu 'alam.


Meski ini buku tipis, tapi memberi banyak energi baru dan pencerahan bagi pernikahan. 


Kamis, 06 Januari 2022

Nasihat Pernikahan

 Bismillahirrahmanirrahim.


Untuk kedua adikku, Nia dan Wahyu.



Alhamdulilah, beberapa waktu yang lalu kalian berdua telah sah secara hukum negara sebagai suami istri. Mbakyumu ini turut berbahagia atas pernikahan kalian. Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang lebih bermakna selain melihat orang yang kita sayangi bahagia.


Tak banyak yang ingin aku haturkan, pun tidak ada kado bermakna yang sempat kupersiapkan. Maafkan jika itu mengecewakan kalian. 


Sebagai seorang kakak, sudah seyogyanya memberikan nasihat kepada adiknya. Meski pernikahanku sendiri baru menginjak 10 tahun, setidaknya aku telah melalui masa-masa awal pernikahan yang cukup berat.


Masa awal pernikahan itu berat, karena masa itu adalah masa penyesuaian, segala hal yang awalnya 'ditutupi' perlahan akan terbuka kedok asli. Jadi jangan pernah membayangkan pasanganmu sesempurna dia saat awal kalian berkenalan. Pun tahun-tahun berikutnya pasti akan terus ada cobaannya.


Menikah itu adalah saat aku dan kau menjadi kita. Bukan lagi keluargamu, keluargaku, tapi keluarga kita.


Ah, barangkali ucapan ini sering kalian dengar orang ucapkan pada kalian. Semoga sakinah, mawadah, dan rahmah. Namun, izinkan aku menukil sebuah tulisan dari Ust. Cahyadi tentang makna ketiganya.


"Sakinah itu selalu senang saat bersama pasangan. Keluarga sakinah bukan berarti tanpa konflik dan ketegangan, tapi mudah reda, mudah diselesaikan, dan mudah didamaikan.


Mawaddah adalah cinta yang menggebu-gebu. Biasanya muncul pada pengantin baru.


Rahmah adalah cinta yang mendalam dan dewasa. Biasanya ada pada "pengantin lama" atau pasangan yang sudah tua usia.


Ibnu Abbas menggambarkan rahmah sebagai 'cinta kasih suami sehingga ia tidak tega dan tidak rela melihat istrinya berada dalam kesulitan'.


K.H. Syaifuddin pimpinan Ponpes Nurul Wahid Purworejo menjelaskan maksud ungkapan Ibnu Abbas tersebut, "Suami tidak rela membiarkan istrinya kelelahan. Baik lelah lahir maupun lelah batin".


Itulah rahmah."


Semoga dalam keluarga kalian senantiasa diliputi 3 kondisi itu. Sekali lagi, barakallahulakuma, barakallahu 'alaikuma, jama'a baina kuma fii khoir. Semoga senantiasa diberi keberkahan dalam kondisi senang ataupun susah.


Dari Mbakyumu

Agie Botianovi

Very Late Post

Minggu, 02 Januari 2022

Malam Tahun Baru

Baru malam ini aku terbangun tepat tengah malam saat tahun baru. Akibat baru saja renovasi rumah menjadi dua lantai, dan renovasi sebenarnya belum selesai. Aku tidur di lantai dua yang masih beratap genteng tanpa plafon. Alhasil suara kembang api yang menghentak-hentak membangunkanku dan bayiku.



Benar-benar baru malam ini aku menyadari gegap gempitanya orang-orang menyambut tahun baru. Suara kembang api yang bersahut-sahutan itu seperti tidak ada ujungnya, dari tempat yang terdengar dekat hingga yang jauh.

00.25

Suara-suara yang menghentak itu terus terdengar seperti tidak akan usai. Bayiku berulang kali refleks kaget dan kembali memelukku sambil menyusu. Kubelai rambutnya yang masih tipis, "Sabar, ya, Nak. Astaghfirullah."

Benar-benar baru kali ini aku ingin bertanya, budaya apakah ini? Tahun-tahun yang lalu aku selalu tidur lelap sepanjang malam tahun baru, karena mungkin kondisi rumah lantai satu dan ada plafon.

Seperti inikah kondisi di Palestina sana saat tiap malam suara bom bersahutan membangunkan tidur bayi-bayi. Jika di sana suara bom menimbulkan trauma, mengapa di sini orang-orang justru berlomba membuat kegaduhan?

Kepo, berapa, ya, harga satu buah kembang api itu? Jika malam ini ada ribuan kembang api, berapa juta uang terbakar sia-sia demi kesenangan sesaat. Ah, aku tidak pantas jika mengomentari mereka yang membelanjakan uangnya untuk membeli kembang api di malam tahun baru. Toh, sedekahku barangkali belum sebanyak sedekah mereka. Aku masih terlalu pelit mengeluarkan uang untuk bersedekah.

Namun, apakah semakin banyak kembang api yang diledakkan, akan semakin banyak pula keberkahan di tahun yang baru? Seperti petasan di tahun baru Cina yang konon terbakar habisnya petasan menandakan pertanda baik untuk satu tahun ke depan. Begitu jugakah dengan kembang api?

Tiga puluh satu tahun aku hidup, dan baru tahun ini aku menyadari gegap gempitanya malam tahun baru. Suara kembang bertalu-talu seakan tak berkesudahan. Kemana aja aku sampai baru sadar?

Ditulis tepat 1 Januari 2022

Tengah malam saat suara kembang api di luar menghentakkan tidur.

Disempurnakan 2 Januari 2022


Minggu, 26 Mei 2019

Kau Tetap Lelaki yang Sama

Aku menangis dalam diam
Dalam jiwa yang mengharu
Dalam hati yang terluka

Aku sama sekali salah
Bahwa diammu bukan berarti kau tak peduli
Kau tetap lelaki yang sama
Lelaki hangat yang mencintaiku karena-Nya

Kupikir kau berubah
Karena tak ada pelukan yang menghangat

Bertahun-tahun kita bersama
Dan aku tetap saja salah duga
Kau tetap lelaki yang sama

Kau lahir di keluarga yang menjadikan pelukan bukanlah kewajiban
Lalu aku menuntutmu memelukku tiap waktu
Aku salah

Dirimu tetap menjadi lelaki yang kukenal dulu
Yang perhatiannya adalah dengan membantu pekerjaan rumah tangga
Bukan dengan bunga atau kejutan mesra

Lalu kecupmu yang begitu dalam dan seperti tak mau melepas menyadarkanku
Kau tetap lelakiku yang sama

25 Mei 2019

Seringkali dalam rumah tangga akan ada perasaan bahwa pasangan mulai berubah, rasa cinta itu mulai pudar oleh usia. Sebagai seorang istri juga sudah seharusnya menghangatkan lagi pucuk-pucuk cinta itu dalam rumah tangga. Menghidupkan lagi kehangatan seperti awal dipersatukan.

Kita tidak bisa mengubah orang menjadi seperti apa yang kita mau. Yang kita bisa adalah mengubah diri sendiri untuk bisa sesuai dengan orang lain.

Saya yang sudah menjalani 8 tahun pernikahan hingga sekarang masih sering terjadi miss komunikasi. Setiap hari kami masih harus terus belajar dan belajar mengenal pasangan.

Kadang pertengkaran kecil atau tangis juga diperlukan untuk semakin mendekatkan diri dengan pasangan. Semakin saling mencintai kekurangan dan kelebihan.

Ah istri, berubahnya suami bukan selalu berarti tak cinta lagi. Karena setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda.

#ntms
#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-19

Jumat, 24 Mei 2019

Hati Suhita: Mikul Dhuwur, Mendem Jero

Mikul dhuwur mendem jero, meninggikan kebaikan keluarga dan menutupi kekurangannya. Hal ini bisa dimaknai juga meninggikan derajat keluarga. Sebuah pepatah yang menjadi pedoman wanita Jawa dalam berkeluarga.



Begitu pula yang dilakukan Alina Suhita, tokoh utama dalam novel Hati Suhita ini. Menikah dalam perjodohan serta penolakan suami atas dirinya tak lantas membuatnya menyerah dalam bersabar. Suhita digambarkan sebagai sosok wanita pesantren penghafal Alquran yang selalu berusaha menampakkan kebaikan suaminya di hadapan semua orang meski sebenarnya yang terjadi sesungguhnya hanyalah sandiwara. Suaminya begitu dingin kepadanya.

Namun dengan kesabaran Alina Suhita dia pun mampu bertahan hingga 7 bulan pernikahan tanpa ada kehangatan. Pernikahan yang didambakan banyak orang, disangkakan banyak orang begitu harmonis nyatanya benar-benar dingin dan hambar. Ditambah dengan adanya orang ketiga di masa lalu yang semakin membuat hati Suhita hancur menghadapi kenyataan. Namun ia bisa bertahan.

Membaca novel ini membuat saya kembali merenungi serta mensyukuri pernikahan yang telah memasuki usia kesembilan tahun. Bersyukur memiliki suami yang hangat dan penuh cinta. Saya pun belajar keteguhan hati Suhita untuk selalu mikul dhuwur mendem jero, suatu hal yang saya mesti terus belajar dan belajar.

Hunna libasulakum wa'antum libasu lahum. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (Potongan surat Al-Baqarah: 187)

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-18

Minggu, 19 Mei 2019

Berhias untuk Suami

Sebenarnya dulu sudah pernah menulis tentang ini disini. Sekarang ingin menulis lagi gara-gara tadi pagi membaca sebuah postingan seorang suami yang curhat mengeluhkan kondisi istrinya yang tidak mau dandan padahal sudah diminta baik-baik oleh suaminya agar mau dandan dan merawat tubuh. Sayang istrinya tidak paham bahwa itu adalah kewajibannya, tetapi istri justru menyalahkan suami tidak mau menerima dia apa adanya.

Hai para istri, suamimu itu makhluk visual, maka manjakanlah matanya sesuai apa yang diinginkannya. Selama itu tidak melanggar syariat, why not? Berdandan untuk suami itu berpahala lho.

Yang perlu menjadi catatan adalah berdandanlah sesuai apa yang suami sukai. Bisa jadi suami A suka rambut panjang, tapi suami B justru suka rambut pendek. Semua harus dikomunikasikan secara produktif. Kalau saya sih biasanya ijin dulu, misal potong rambut boleh nggak? Baju ini bagus nggak? Suami saya sih type yang semua oke aja, hanya terkadang dikomentari. Komentar itulah yang saya simpan dan menjadi panduan saya dalam menghias diri.

Jadi para istri, selama ini sudah dandan sesuai yang suami maui belum?



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari ‘Abdullah bin Salam. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 3299).

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-14

Sabtu, 18 Mei 2019

Ketika Suami Sakit

Ah, rasanya melihat belahan jiwa tergolek lemah meringkuk dalam selimut itu mengiris hati, nggak tega. Benarkah tubuh yang kokoh itu kini tak memiliki dayanya lagi untuk menjadi tamengku?

Manusia sesungguhnya tak pernah memiliki tubuhnya sendiri. Semua hanya titipan dari Sang Pencipta. Jika Pemiliknya ingin membuat tubuh itu sakit, maka apa daya diri selain ikhlas menerima agar menjadi sarana penggugur dosa?

Seharian tadi dengan tubuh demam dan meringkuk lemah, suami tetap bersikeras puasa. Sudah kutawarkan untuk membatalkan puasa jika tidak kuat, tapi tetap tidak dia lakukan hingga azan magrib terdengar.

Ah, kekasihku, belahan jiwaku, sigaring nyowoku. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosamu melalui sakit ini yang tetap kau jalani dengan ikhlas.

Sesekali kau memintaku untuk memijat atau mengoleskan sesuatu. Lalu kau menolak ketika aku memijat terlalu lama, kasian bunda capek. Dengan sisa energi kau kerjakan shalat dengan tubuh sempoyongan, lalu shalat berikutnya kau kerjakan dengan duduk. Padahal tadi subuh kau masih kuat berjamaah ke masjid, lalu hingga kini kau masih tergeletak lemah.

Ah, cinta. Kita tak pernah memiliki tubuh kita sendiri, tapi kita bisa berusaha menjaganya. Mungkin ini teguran, agar kita bisa menjaga tubuh titipan ini dengan lebih baik lagi.



Barangkali kita bisa mulai sedikit-sedikit merubah pola makan kita? Ah, sepertinya akulah yang mesti belajar memasak lebih sehat tapi tetap enak.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-13

Minggu, 12 Mei 2019

Sakit saat Puasa

Qadarullah, kemarin lusa sebelum berbuka saya sudah merasa kurang enak badan seperti mau flu. Hidung mulai mbeler dan kepala sedikit pusing, sepertinya ketularan suami yang beberapa hari sebelumnya sudah tumbang duluan.

Puncaknya terasa sekali kemarin, menyiapkan sahur sudah dengan kepala yang terasa sangat berat karena semalaman tidak bisa tidur, hidung mampet. Namun bagaimanapun aku harus tetap menyiapkan sahur seadanya, kumasak sayur bayam dan jagung yang paling simpel dan sudah disiangi sebelumnya, proteinnya juga cukup lele goreng dan tak ada lauk lain lagi. Alhamdulillah suami mewajari kondisiku, dia tetap makan dengan lahap masakanku yang seadanya. Padahal biasanya kalau tidak ada sambal dia pasti mencarinya.

Puasa seharian kujalani dengan cukup berat, kepala pusing seperti tidak akan berakhir, bersin-bersin dengan intensitas tinggi, dan hidung mampet kesulitan bernafas. Aku lebih banyak baringan, meski harus tetap kupaksa bergerak untuk menyiapkan makan si kembar atau memandikannya. Alhamdulillah sorenya si kembar dijemput eyangnya untuk menginap di akhir pekan. Aku pun bisa istirahat lebih leluasa meski masih ada Jundi di rumah, Jundi jauh lebih mandiri.

Alhamdulillah hanya berjarak 2 bulan sudah diberi nikmat sakit lagi, semoga menjadi penggugur dosa. Meski rasanya sakit kali ini membuatku kurang optimal beribadah.


“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-7

Rabu, 08 Mei 2019

Suami yang Pergi Mendahului

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu pula dengan pasangan suami istri, suatu saat juga pasti akan terpisah. Ada pernikahan yang berumur panjang, ada juga pernikahan yang berumur sebentar.



Seorang istri yang tiba-tiba ditinggal suaminya meninggal dunia tentu merasakan shock, apalagi jika pernikahan baru sebentar. Begitu pula yang pernah dialami ibuku. Di tahun kelima pernikahan ibu dan bapak baru dikarunia anak, aku sendiri. Namun tak lama setelahnya, saat aku masih 11 bulan, bapakku diambil oleh-Nya, Pemilik semua nyawa.

Aku yang masih bayi harus merasakan menjadi seorang anak yatim yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Ah, entahlah bagaimana ketegaran ibuku, menjadi janda di usia yang masih muda, 25 tahun.

Kejadian seperti ibuku ternyata juga banyak terjadi di sekitarku, ada yang masih bayi 9 bulan ditinggal ayahnya, ada pula yang masih anak-anak. Beberapa waktu lalu ada seorang istri dengan 2 anak balita ditinggal suaminya setelah 2,5 tahun pernikahan. Ah, lagi-lagi aku tak pernah terbayang jika itu terjadi padaku, meski dari sekarang suami selalu menyiapkanku agar ketika dia tiada aku tetap bisa mencari nafkah untuk anak-anak. Ah, aku paling benci kalau dia sudah membahas hal itu. Namun umur manusia memang tidak ada yang tahu.

Aku salut dengan wanita-wanita tegar yang tetap bisa bangkit setelah suaminya tiada, bahkan ada yang sudah berencana tidak menikah lagi meski umurnya masih muda. Aku pun tak terbayangkan jika harus menikah lagi dengan lelaki lain yang kupikir tidak akan lebih baik dari suamiku dalam memperlakukanku. Aku juga ingin di surga bersamanya, bukan dengan yang lain. Ah, tapi bukankah Allah yang menggenggam semua rencana?

Semoga aku dan suamiku bisa menua berdua hingga ke surga.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-3

Jumat, 21 September 2018

Bertemu Saudara Sepersusuan


Setelah bertahun tidak pernah tahu dan berjumpa, alhamdulilah saat perjalanan ke Banjarmasin kemarin Jundi bisa bertemu dengan saudara sepersusuannya. Adalah Tiara, gadis cantik yang dulu pernah meminum air susuku. Saat kami sampai di bandara Syamsudin Noor, Mommy Tiara dan Tante Eta serta Eira adik Tiara yang menjemput kami di bandara.

Air mata saya tiba-tiba meleleh saat Mommy yang sedang menyetir bercerita tentang percakapannya dengan Tiara sebelum Bunda datang.
'Tiara nanti ada Bunda mau datang, dulu Tiara pernah minum air susu bunda, jadi Tiara anak Bunda juga,'
Ah meleleh, ternyata Mommy justru mempersiapkan hal itu, hal yang saya tidak terpikir sebelumnya.

Sebelum sekalian menjemput Tiara pulang sekolah kami diajak makan dulu mencicipi ikan bakar khas Banjar. Macam ikannya lumayan banyak dan namanya cukup asing di telinga saya seperti ikan lais, ikan haruan, dan beberapa ikan yang saya lupa namanya. Ada juga urap-urap khas Banjar dan sayur semacam lodeh yang saya lupa namanya. Lalu sambelnya sambel pencit yang rasanya seperti ada terasinya namun pas di lidah saya.

Setelah makan, kami lanjut ke sekolah Tiara, dan ternyata setelah satu mobil Tiaranya masih malu-malu diminta 'salim' ke Bunda. Dan wah, Tiara sudah besar dan cantik. Tiara sekarang sudah sekolah SD, sedang Jundi kakak susuannya masih TK B. Karena Jundi memang saya cukupkan 7 tahun baru SD.

Sampai di rumah eyang Tiara yang adalah sepupu bunda, tak lama ternyata Jundi dan Tiara sudah menjadi akrab bermain dan belajar. Mereka beberapa kali main tebak-tebakan bersama ayah Jundi.
'Eh kita kan saudara saudari...' sekilas saya dengar Tiara berbicara ke Jundi. Alhamdulillah.

Tak terasa tiga hari kami berada di Banjar dan saatnya kami pulang. Di perjalanan pulang Tiara dan Jundi tertidur saling menyandar, bunda dan ayah mau memfoto sudah tak sempat lagi karena pikiran sudah ke boarding time yang sudah mepet. Sebelum tertidur Tiara sempat berpesan, 'Kalau ke sini lagi mas Jundi harus main ke rumahku ya, ada di jalan .... (saya lupa)'. Ah Tiara, maaf ya kami cuma sebentar saja di Banjar.

Setelah berpamitan dan bergegas untuk check in tak diduga boarding time maju 30 menit dari jadwal yang tertera di tiket, aw aw, benar-benar berkejaran. Kebersamaan yang teramat singkat. Semoga hingga kelak bunda dan mommy tiada, kalian tidak putus silaturahim ya Jundi dan Tiara.

Diselesaikan 20 September 2018
Bunda Jundi

*foto 6 tahun lalu vs foto sebulan yang lalu

Selasa, 28 Agustus 2018

Tentang Cinta

Entahlah tiba-tiba ingin menulis tentang cinta. Seperti puisi-puisi picisan yang sering saya tulis dulu jaman SMA. Atau seperti puisi-puisi Rangga? 😅



Tak peduli Rangga-Cinta, Adit-Tita, atau justru Pras-Arini. Kalau di sini adanya Dayat-Agie 😁.

Tujuh tahun pernikahan, konon telah melewati masa ujian kritis di lima tahun pertama. Dan tentang cinta? Sudahkah kita saling mencinta?

Kalau kata Agnes Mo cinta kadang tak ada logika. Namun bagi saya tetap saja sejatinya cinta adalah untuk meraih kesempurnaan cinta-Nya. Inti sari dari saling mencinta adalah untuk meraih ridhoNya.

Ah maafkan, dari kemarin suasana hati lagi baper 😅. Menginjak usia pernikahan yang sudah 7 tahun yang menurut penamaannya adalah masuk usia tembaga, maka ujian cinta di usia ini menurut apa yang saya rasakan berbeda dengan ujian di tahun-tahun sebelumnya.

Konon ujian terberat sebuah pernikahan terjadi pada usia kayu (5 tahun) dan pada usia tembikar (20-25 tahun). Alhamdulilah ujian pertama sudah terlewati, yang entah apa bentuknya namun bisa membuat kami lebih dewasa dalam mencinta. Saya merasa diri ini yang terbilang masih 28 tahun terkadang harus menepis jiwa muda saya demi menyamakan langkah dengannya yang terpaut hampir satu dasawarsa. Ah tapi bukankah diapun seringkali harus berubah menjadi kanak ketika harus menyamakan sudut pandang denganku?

Dan begitulah cinta, seringkali harus menepis ego dan saling mengisi ego pasangan. Bukankah indahnya cinta adalah meraih sakinah? Ketenteraman jiwa demi ibadah kepadaNya. Maka ketika dengan menikah kita bisa lebih menjaga pandangan, tentu ibadah akan lebih tenteram bukan?

Semoga cinta ini hanyalah demi meraih ridho Sang Pencipta.

Agie istri Cak Day
28 Agustus 2018
Writing therapy ala Agie 😅

Jumat, 08 Juni 2018

Tentang aku dan i'tikaf



Dari 'Aisyah ra bahwa Nabi saw biasa beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istrinya beri'tikaf sepeninggal beliau. (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari : 2026 dan Muslim : 1172)

I'tikaf, berdiam diri di masjid selama 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Seingatku dulu saat pertama kali tahu apa itu i'tikaf saat SD aku bersikeras ke eyangku agar aku boleh ke masjid terdekat untuk i'tikaf. Padahal masjid di deket rumah tidak mengadakan i'tikaf 😅. Waktu SMA aku baru paham bahwa i'tikaf itu bisa dilakukan di masjid yang memang memfasilitasi untuk hal tersebut.

Dan akhirnya pertama kali aku keturutan i'tikaf adalah saat aku kuliah tingkat 1 di Masjid Raden Patah UB. Saat masjidnya belum dibangun seperti sekarang, masih bangunan lama. Dan kesan saya? Ah indah, fokus ibadah tanpa banyak distraksi meski sesekali juga berbincang dengan sesama jama'ah. Ah tapi saat itu aku masih cupu, masih jarang ada yang kenal. (Walau saat ini yang kurasakan lebih enak i'tikaf dengan orang-orang yang sedikit kenal, karena sedikit ngobrolnya 😅).

I'tikaf kedua masih jadi mahasiswa, tahun keberapa jadi mahasiswa ya...yang jelas pas itu di masjid ad-dakwah sdit ip, saat di sana masih dikelilingi sawah, kalau sekarang mah dikelilingi rumah 😅.

I'tikaf ketiga waktu saya sudah menikah di semester 7 perkuliahan. Dengan suami pernah di annur jagalan dan di ghifari suhat. Dan itulah i'tikaf terakhirku sebelum aku memiliki anak. Tahun berikutnya 6 tahun total aku absen dari i'tikaf karena anakku belum bisa dikondisikan. Dan meski banyak yang bisa membawa anak, suami tidak mengijinkan. Tugas istri adalah taat, maka aku harus memperbanyak ibadah semaksimalnya di rumah sembari mendampingi si kecil. Pernah suatu kali saat masih labil (tahun pertama punya anak) aku ngambek karena suami gak sahur di rumah, padahal meski dia i'tikaf dia biasanya menyempatkan sahur bareng aku. Hahaha, lucu kalau diingat.

Dan kali ini adalah i'tikaf keempatku. Meski tidak bisa full 10 hari (seperti i'tikaf sebelum-sebelumnya juga gak pernah full), tapi aku bersyukur bisa i'tikaf. Terinspirasi dari umroh kemarin, anak-anak kutitipkan di eyangnya saat aku i'tikaf, hwkwkwk. Tapi gak tiap harilah,😆. Dan kali ini pertama kalinya aku i'tikaf di masjid jami' al umm. Padahal deket banget dengan rumah tapi baru tahun ini bisa i'tikaf disini.

Semoga bisa mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi. Dan semoga masih diberi panjang umur agar bertemu Ramadhan tahun depan 😭.

Agie Botianovi
7 Juni 2018
Malam 23 Ramadhan 1439 H

Jumat, 01 Juni 2018

Berdua Denganmu

Berdua denganmu pasti lebih baik, aku yakin itu.

Berdua saja denganmu, entah rasanya sudah bertahun lamanya moment 'berdua' saja menjadi sebuah moment langka dalam kehidupan pernikahan kita. Terkadang aku sendiri ingin menyesali diri, mengapa aku dulu tak 'menikmati' masa hanya berdua denganmu. Ah kau pun tahu aku masih kuliah kala itu, sibuk dengan diskusi demi skripsi. Hingga lelahnya kehamilan trimester 3 tak juga membuatku surut berjuang demi lulus tepat waktu.

Ah, rasanya terlalu cepat waktu berlalu sayang. Ini adalah ramadhan ke 8 kita berdua. Kita yang kini beranggotakan lima. Ah ya lima, aku dan kamu, dan tiga buah cinta kita.

Sama-sama lagi pake masker karena gak tahan baunya unta 😂. @peternakan unta hudaibiyah


Sebulan yang lalu masih terasa bagai mimpi, aku dan kamu 'mengasingkan' diri, berdua saja dalam naungan cinta. Ah sungguh, saat berdua saja dalam 10 hari perjalanan membuatku semakin memahami makna cintamu untukku. Ah ya, begitulah caramu mencintaiku.

Kau mencintaiku dengan caramu, cara yang tak akan bisa sama. Cara sederhana yang seringkali membuatku harus berpikir jernih untuk memahami makna.

Ah cinta, kapankah kita bisa berdua (lagi)?

31 Mei 2018
Malam 16 Ramadhan 1439

Sabtu, 10 Februari 2018

Kekasihku



Masih ingatkah kamu kekasihku saat pertama kali kau menemui orang tuaku? Di ruang tamu sempit itu kamu mengutarakan maksud kehadiranmu. Kau kata grogi, hingga sebelum sampai di rumahku kau mampir ke masjid dulu. Ah!

Masih ingatkah kamu? Saat akad nikah kau ucapkan dengan lantang dan tegas, tanpa teks, dan tanpa pengulangan. Lalu aku yang menunggu di bilik kamarku tiba-tiba merasakan debar yang tak biasa. Ah, saat itu juga aku resmi menjadi makmummu.

Tak lama, masa kita hanya 3 bulan berproses mengenal hingga halal. Dan sungguh tak kusangka kaulah kekasih halalku.

Masih ingatkah kau pertemuan-pertemuan kita sebelum kita benar-benar mengenal? Ah! Kita dulu hanya orang asing satu sama lain. Tapi kamulah yang duluan meminta untuk lebih saling mengenal. Ah!

Sungguh lucu aku dan kamu saat itu. Dan kini kita setiap hari saling melempar tatapan mesra. Ah!

Lihatlah 3 buah hati kita, mereka semua mirip dirimu. Kekasihku, ijinkan aku menjadi nenek dari cucu-cucumu. Semoga Allah mengijinkan.

Kekasih Cak Day
10 Februari 2018

Rabu, 15 November 2017

Komunikasi Produktif #14

Jadi ceritanya kemarin malam lagi-lagi 3krucil tidur di rumah eyangnya, jadilah saya berduaan lagi dengan ayahnya, haha. Nonton? Jalan-jalan? Dinner berdua? Gak semua!

Begitu dari rumah eyang kami langsung pulang, mampir toko buah sebentar sih beli mangga dan rambutan 😁. Sampek rumah makan buah bentaran, lalu sibuk dengan dunia masing-masing. Iyes, kami ingin menikmati me time kami masing-masing 😀.

Saya masuk kamar belakang dengan lampu kamar nyala, karena saya ingin baca buku, lalu suami masuk kamar depan dengan lampu mati, dia menonton film kesukaannya yang bagi saya 'horor'. Lalu tenggelamlah kami dalam aktivitas masing-masing hingga lelap di kamar masing-masing.

Sebelum masuk kamar masing-masing kami sudah melakukan komunikasi terlebih dahulu untuk clear and clarify apa yang ingin kami lakukan agar tidak ada yang salah paham. Kami membiasakan jika akan melakukan sesuatu kami ijin dulu kepada pasangan. Apapun perlu dikomunikasikan, karena menurut cemilan tadi pagi di kelas bunsay "Mitra yang terbaik adalah mitra yang terbalik". Iya, karena kami adalah makhluk yang berbeda, maka dengan komunikasi produktif ini hubungan saya dengan suami menjadi semakin harmonis. Alhamdulillah 😊.

Kini saatnya menagih suami untuk menulis surat cinta tugas dari sekolah Jundi, surat cinta ayah untuk bunda. Huahaha, gurunya tau aja saya lama gak dibikinin tulisan sama suami 😂.

#harike14
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 11 November 2017

Komunikasi Produktif #10

Ah entah mimpi apa saya semalam bisa ngedate sama manusia ganteng tanpa bingung 3 anak 😂. Alhamdulillah setelah sekian tahun gak pernah jalan ke mall berdua akhirnya semalam keturutan, yeay 😍.

Sampai mall kami langsung menuju cinemaxxi, pengen sih nonton berdua, kayaknya sudah 3tahunan yang lalu terakhir nonton di bioskop, kuper banget yak 😂. Eits, tapi lebih kuper lagi kalo gak pernah ikut kajian ilmu sih, alhamdulillah bisa tetap rutin 😍. Lihat jadwal film yang tayang kami sempat berpikir lama, berdiskusi. Kalau film yang sesuai selera saya dan dia masih bisa 'lihat' juga sih pilihannya cuma Hujan Bulan Juni (doski malah udah kelar baca novelnya, gue belum 😅), tapi tayangnya jam 9 malem, bakal pulang tengah malem kalo ambil itu. Sedang waktu masih menunjukkan pukul 7 malam, masih lama lagi.

Lihat jadwal lagi yang cocok hanya 'Thor Ragnarok', OMG film apaan itu, itu mah emang jenis-jenis 'filmnya' suami, tapi saya? 😴 Namun alhamdulillah 6tahun bersama ternyata membuat dia tak memaksakan kehendak, "Ah tapi kalau nonton itu nanti Bunda tidur lagi" uhuy 😍. Makasih cinta atas pengertianmu.

Akhirnya saya minta makan di foodcourt, lalu jalan-jalan carikan baju krucil lanjut cuci mata ke tokbuk, iya cuci mata doang, karena tumpukan buku yang sudah dibeli tapi belum dibaca sudah banyak sekali 😅. Alhamdulillah komunikasi produktif antar pasangan membuat hubungan kami semakin erat, tidak ada pemaksaan sudut pandang, yang ada saling menerima dan memahami perbedaan.

#harike10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, 08 November 2017

Komunikasi Produktif #7

Saya dan suami bisa dibilang sama-sama suka baca buku. Dulu saat awal menikah ternyata banyak koleksi bukunya dan bukuku sama, sehingga kami memilih menyumbangkan koleksi yang sama tersebut ke perpustakaan milik teman. Membaca bagi saya adalah hal yang menyenangkan, saya bisa tahu banyak sekali hal baru dari membaca. Maka untuk anak-anak, kamipun ingin membiasakan mereka membaca sejak dini.

Saat Jundi masih bayi, pertama kali saya belikan buku adalah buku teether, sayang akhirnya harus terjatuh dan hilang saat kami mengajaknya jalan-jalan ke toko kain, karena dia suka dengan buku tersebut jadi dibawa kemana-mana. Berikutnya saya mulai membelikan buku bantal, dan alhamdulillah responnya juga cukup baik. Hingga saat ini usia Jundi sudah 5tahun alhamdulillah koleksi bukunya sudah semakin banyak walau ada beberapa yang hilang atau sobek sehingga sudah tidak bisa dibaca.

Beberapa waktu lalu suami saya tiba-tiba berpesan, "Sepertinya anak-anak dibelikan buku semacam ensiklopedia aja". Saya yang lihat ada promo sebuah ensiklopedia tidak berdiskusi dengannya dulu langsung main pesan, akibat terkena bujuk rayu covert selling bu penjual juga, katanya laku ratusan pcs hanya dalam hitungan 1 pekan, wow!

Begitu buku datang si anak langsung antusias, dan saya belum baca semua halamannya, tapi si bapak udah baca duluan, dan tibalah percakapan itu, "Ini buku terbitan apa?" tanya bapak.

"Hm? Gak tau, belum lihat" jawab saya polos, ah betapa teledornya saya kali ini.

"Lihat isinya ada A, B, C, D"

"Oya?" saya mendelikkan mata, shock karena sudah melakukan kesalahan. Saya coba membuka halaman-halaman yang dimaksud, ya benar, beberapa ada yang kurang sesuai dengan nilai di keluarga kami. Ah cerobohnya aku!

Akupun langsung terpikir untuk menjualnya, apalagi kondisi masih baru kemarin dibuka, namun saat aku ijin kepada Jundi ternyata dia tidak mengijinkan 😢. Bismillah buku ini masih aman jika dengan pendampingan.

"Gapapa yah insyaallah masih aman yang penting kita harus bisa menjelaskan ke anak-anak"

"Iya, anak-anak harus didampingi, lain kali Bunda harus lebih teliti lagi ya kalau membelikan buku anak-anak, lihat penerbitnya, "

"Iya yah, Bunda minta maaf ya, lain kali Bunda akan lebih hati-hati"

Alhamdulillah clear. Kaidah yang saya tekankan di cerita di atas adalah kaidah komunikasi produktif dengan pasangan : clear and clarify dan I'm responsible for my communication results. Dan tentunya harus tetap choose the right time dan keep eye contacts.

Karena anak-anak itu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya ayah saja atau ibu saja. Semua yang kita lakukan hari ini akan dipertanggung jawabkan kelak, sudahkah memenuhi hak anak? Jangan sampai hanya karena ego pribadi anak jadi terabaikan dan kurang terpenuhi haknya.


#harike7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 05 November 2017

Komunikasi Produktif #4

Jadi ternyata menurut Albert Mehrabian suara yang keluar saat kita berkomunikasi itu cuma berpengaruh 7% terhadap lawan bicara, sedang sisanya 38% adalah intonasi dan 55% bahasa tubuh. Dan kalau saya amati memang begitu adanya, terkadang chatting ponsel yang hanya text bisa multitafsir karena kita gak tau benar bagaimana intonasi dan mimik wajah si pembawa pesan (ya walau banyaknya emoticon cukup memudahkan untuk membayangkan ekspresi si pembawa pesan), maka untuk hal-hal sensitif memang sebaiknya dibicarakan dengan tatap muka, offline.

Begitu pula dengan komunikasi dengan anak-anak, salah satu kaidah komunikasi produktif dengan anak-anak adalah dengan mengendalikan intonasi bicara. Dan ternyata permainan intonasi serta bahasa tubuh ini saya praktekkan dalam membacakan buku ke putri kembar saya membuat beberapa hari terakhir ini efektif mereka duduk anteng mendengarkan sambil ikut melihat buku yang dibaca. Dan yang amaze beberapa kali mereka bisa anteng hingga selesai beberapa buku, padahal rentang konsentrasi mereka masih sangat rendah di usianya yang masih 2 tahun. Amaze banget kan ya, alhamdulillah.

Tentang intonasi dan bahasa tubuh ini, saya juga ingin bercerita tentang kejadian hari kemarin saat saya dan anak-anak saya ajak antar kain ke penjahit. Dalam kondisi jalanan cukup macet, kursi mobil agak sempit karena ada beberapa gulung kain menumpuk, apalagi udara cukup panas (mas Jundi gak pernah mau kalau AC dinyalakan, katanya bikin dia muntah 😓), sip banget kondisinya bikin krucil 'rame'. Si Jundi yang bosan malah sibuk mencari cara menggoda adiknya (eh dia sampai duduk di bagasi juga lho 😅). Dan lucunya si Fasya yang digodain marah dengan ngomel-ngomel gak jelas apa isi kalimatnya, tapi dengan intonasi marah serta mimik wajah marah siapapun akan tau kalau dia sedang marah, jadi memang terbukti text yang 7% tadi kadang gak terlalu penting jika mimik dan bahasa tubuh lebih berbicara. Tapi memang begitulah kebiasaan Zalfasya belakangan yang kosa katanya sedikit tertinggal dari saudara kembarnya Faradilah.

Lalu pertanyaannya adalah saya, bagaimana saya dalam kondisi seperti itu tadi, anak tengkar gak jelas, jalanan macet ditambah udara yang cukup hot. Kondisi ini tentu membuat orang lebih mudah tersulut emosi, maka yang saya lakukan adalah mengingatkan dengan tegas tapi tetap ramah dan menjaga intonasi. Ah, komunikasi produktif memang harus banyak dilatih!

#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 04 November 2017

Komunikasi Produktif #3

Mas Jundi lagi-lagi kemarin hectic dulu sebelum berangkat sekolah, pasalnya dia kurang berhati-hati saat berkumur seusai sikat gigi hingga berdarah banyak sekali. Jadi dia suka berkumur dengan cara mulut langsung mengambil air dari kran, naasnya kemarin kran sampai melukai gusi bagian atasnya, sehingga timbul luka yang saya lihat cukup dalam.

Dalam kondisi masih memakai handuk belum berganti baju dia teriak-teriak menangis kesakitan, dan darah terlihat mengucur deras dari gusinya. Saya berusaha untuk tetap tenang tidak panik, berpikir waras, karena nalar yang panjang maka akan sedikit emosi, sedang nalar pendek akan menghasilkan banyak emosi.

"Iya sebentar, sabar ya, coba bunda bersihkan dan bunda kasih minyak zaitun. Lain kali hati-hati ya, kumur pakai gayung saja" saya berusaha fokus pada solusi, bukan pada masalah, sesuai kaidah komunikasi produktif dengan anak-anak.

Mas Jundi pun tetap menangis dan mencoba membela diri, "Tadi kan air di gayung kotor ada sabunnya, jadi Jundi langsung ke kran,"

"Iya, lain kali kan bisa minta bunda ganti airnya, mas Jundi biasanya kan memang suka kumur langsung dari kran, " sambil terus berusaha menjaga intonasi saya jelaskan, dan darah alhamdulillah sudah bersih tinggal beberapa kali lagi diberi minyak zaitun pada luka.

Lalu tangispun reda, baju seragam telah terpakai dan mas Jundi siap berangkat sekolah. Love you my son, ajari bunda untuk selalu berlatih agar komunikasi di antara kita semakin produktif.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 03 November 2017

Komunikasi produktif #2

Kemarin, seperti biasa, pulang sekolah mas Jundi sampai rumah maunya main dulu. Belum ganti baju, pipis dan cuci kaki dia selalu sudah sibuk dengan 'sesuatu'. Beberapa kali saya ingatkan, "Ayo mas Jundi pipis dulu, ganti baju, baru boleh main, trus maem, tidur, nanti ngaji". Namun dia masih saja sibuk dengan 'mainan' dia seolah tidak mendengar apa yang saya katakan.

Dan saya pun baru teringat materi tentang komunikasi produktif yang baru saya dapatkan di kelas Bunda Sayang, (masih belum merasuk nih jadi masih suka lupa, memang harus terus 3L, latih latih latih) yaitu cara berkomunikasi dengan anak-anak. Salah satunya adalah dengan KISS (keep information short & simple). Ah ya, saya harus mengubah kalimat yang bertubi-tubi menjadi kalimat sederhana pada tindakan yang harus dia lakukan pertama kali.
"Mas Jundi, ayo ganti baju dulu" dengan intonasi yang diatur dan diusap punggungnya. Dan ya, dia manut, baru saya lanjut perintah berikutnya. Ah, betapa indahnya jika telah terbiasa berkomunikasi produktif. Harus banyak Latih, Latih, Latih.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip